Menyusui

Serba-serbi Penyimpanan ASI yang Tepat, Jangan Sampai Keliru Bunda!

Memberikan air susu ibu (ASI) secara langsung memang lebih praktis, namun dalam beberapa kondisi hal ini mungkin tak bisa dilakukan. Jika demikian, penyimpanan ASI yang diperah pun perlu dilakukan.

Meski terkesan mudah, tapi penyimpanan ASI tak bisa dilakukan sembarangan lho, Bunda. Ada beberapa rambu yang perlu diperhatikan supaya kualitasnya tetap terjaga.

Dikutip dari situs Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), disebutkan bahwa salah satu prinsip pentingnya yakni mengutamakan kebersihan. Jangan lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah memerah AS, serta saat menyimpannya.

Nah, berikut ulasan lengkap tentang metode penyimpanan ASI yang tepat:
1. Perhatikan pemilihan wadah penyimpanan ASI

Menurut IDAI, wadah penyimpanan ASI harus selalu pasti bersih. Bunda dapat menggunakan botol kaca atau kantong ASI yang bebas bisphenol -A (BPA). Jangan lupa selalu mencuci dan menjaga botol kaca tetap steril ya, Bunda.

Jika bisa, utamakan penggunaan wadah botol kaca untuk penyimpanan ASI jangka panjang. Penggunaan kantong ASI biasanya hanya untuk jangka pendek, yaitu kurang dari 72 jam.

Penyimpanan ASI dengan kantong tidak dianjurkan untuk jangka waktu yang lama karena rentan bocor dan terkontaminasi. Selain itu, beberapa komponen ASI dapat menempel pada kantong, sehingga nilai gizinya berkurang.
breast milk in plastic bags on refrigerator shelf, frozen mother milk for infant, breastfeedingIlustrasi penyimpanan ASI. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Ratchat)
2. Jangan lupa beri informasi pada label kemasan

Pastikan Bunda selalu memberi informasi pada label wadah penyimpanan ASI, biasanya berupa nama bayi dan tanggal ASI diperah. Informasi tanggal sangat penting untuk memastikan bahwa ASI yang dipakai adalah ASI yang lebih lama.

Informasi tanggal juga diperlukan supaya Bunda tahu kapan batas masa simpan ASI. Jangan sampai memberikan ASI yang sudah disimpan terlalu lama.

Selain itu, hindari juga mencampurkan ASI yang telah dibekukan dengan ASI yang masih baru pada wadah penyimpanan.
3. Gunakan ASI sesuai periode penyimpanan

Penyimpanan ASI perah sebaiknya dibagi dan disimpan dalam jumlah yang lebih sedikit, misalnya per 60-120 ml. Dengan demikian, Bunda tidak perlu membuang ASI yang tidak dihabiskan.

Jumlah ASI yang diberikan disesuaikan dengan usia bayi, ya. Semakin besar usia bayi, semakin besar pula jumlah ASI yang diberikan setiap kali minum.

Jika konsumsi ASI lebih banyak dari satu kemasan, tak perlu khawatir karena ASI perah yang dikeluarkan dalam hari yang sama dapat digabung menjadi satu.

Caranya adalah dengan mendinginkan ASI yang baru diperah minimal 1 jam dalam lemari es, kemudian ditambahkan ke dalam ASI sebelumnya yang sudah didinginkan dalam wadah.
4. Pahami aturan waktu penyimpanan ASI sesuai tempat

Menurut IDAI, ASI banyak mengandung zat gizi, zat antibakteri dan antivirus sehingga perlu diperhatikan cara penyimpanannya. Berikut informasinya:

– ASI dapat disimpan pada suhu ruangan kurang dari 25 derajat Celcius selama 6-8 jam. Jika suhu ruangan lebih dari 25 derajat Celcius, ASI bisa tahan 2-4 jam. Tapi ingat, wadah penyimpanan ASI harus ditutup dan dibiarkan dingin.
– ASI dapat disimpan dalam insulated cooler bag dengan ice pack atau ice gel selama 24 jam.
– ASI dapat disimpan dalam lemari es dengan suhu sekitar 4 derajat Celcius sampai maksimal 5 hari.
– ASI dapat disimpan dalam freezer dengan ketentuan:
– – Bagian freezer di dalam lemari es (-15°C): selama 2 pekan
– – Freezer dan lemari es mempunyai pintu yang berbeda (-18°C): selama 3-6 bulan
– – Deep freezer yang jarang dibuka dan temperaturnya tetap ideal (-20°C): selama 6-12 bulan

Namun ada beberapa bukti yang menyatakan bahwa lemak dalam ASI dapat mengalami degradasi sehingga kualitas ASI menurun jika disimpan terlalu lama.
5. Penyimpanan ASI untuk bayi yang dirawat di rumah sakit

Jika si Kecil sedang berada dalam perawatan di rumah sakit, ASI tetap dapat Bunda berikan secara teratur. Rute pemberian makan biasanya bergantung pada kondisi bayi dan kebijakan di rumah sakit.

Pedoman penyimpanan ASI untuk bayi sehat dan cukup bulan umumnya berbeda dengan bayi yang dirawat di rumah sakit. Terlebih jika bayi memiliki masalah kesehatan, seperti sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah.

Dilansir Healthline, beberapa hal umum yang perlu diperhatikan antara lain:

– Penulisan informasi pada label wadah penyimpanan ASI harus mencantumkan nama bayi, tanggal, jam memerah ASI, serta obat atau zat apa pun yang Bunda minum sejak sesi pemompaan terakhir.
– ASI yang baru dipompa untuk bayi prematur atau rawat inap harus digunakan dalam waktu satu jam atau disimpan di lemari es. Pertumbuhan bakteri yang terjadi dalam ASI yang ditinggalkan pada suhu kamar bisa berbahaya bagi bayi.
– Jika menyimpannya di lemari es, ASI yang baru dipompa dapat bertahan hingga 48 jam.
– ASI yang dicairkan sebelumnya harus digunakan dalam waktu maksimal 24 jam (jika dicairkan di lemari es) atau dua jam (jika dihangatkan) atau harus dibuang.
– Selalu diskusikan pedoman penyimpanan yang direkomendasikan untuk situasi bayi dengan tenaga medis. Nantinya penyimpanan ASI dan pemberiannya untuk si Kecil akan disesuaikan dengan kondisi.

Demikian informasi tentang penyimpanan ASI demi menjaga kualitasnya. Jangan lupa selalu periksa kondisi ASI sebelum diberikan pada bayi ya, Bunda!

What is your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in:Menyusui